Featured

0 Anda Ingin Sehat? Berpikirlah Positif Selalu

Apakah anda kesulitan memunculkan pikiran positif dalam diri Anda? Cobalah review kembali diri Anda. Bisa jadi, sikap Anda sendiri yang menghambat pikiran positif berkembang di otak.
Menyelaraskan pikiran positif sebenarnya bukanlah hal yang sulit. Karena pada dasarnya ketika terlahir ke dunia pun, manusia dalam keadaan positif. Namun seiring dengan perjalanannya, pikiran positif kerap beradu dengan sisi negatif yang saling tarik-menarik. Alhasil, tak sedikit orang yang lebih dominan sikap negatifnya karena dipengaruhi oleh karakter diri, kepribadian, dan kebiasaan.
Menjadikan pikiran positif sebagai bagian dari keseharian tentu tidak ada ruginya. Dengan berpikir positif, maka Anda pun terbiasa melakukan hal-hal yang positif yang memberikan dampak positif pula dalam hidup Anda. Sayangnya, kenyataan tersebut tak selalu terwujud karena pikiran manusia dipengaruhi alam bawah sadar mereka.
"Alam bawah sadar selalu menguasai perilaku seseorang, sehingga terkadang apa yang dilakukan bukanlah apa yang dipikirkan," tutur Rani Noesman MPsi dari Yayasan Kita dan Buah Hati di Rumah Batik Danar Hadi, Melawai, Jakarta.
Rani mengaku tanpa disadari alam bawah sadar sering menyabotase pikiran. Misalnya saja, ketika Anda menelpon pasangan karena belum pulang di jam seperti kebiasaannya, maka pikiran-pikiran negatif pun mulai menghantui. Jangan-jangan dia inilah atau dia itulah.
"Faktor keberhasilan pikiran positif itu 85 persen bergantung pada sikap mental, sementara 15 persen dipengaruhi oleh pengetahuan. Jadi untuk mengubah diri, maka yang perlu Anda lakukan adalah mengubah perilaku atau sikap Anda," katanya memberi tips.
Read more

1 Menghentikan Kebiasaan Anak Menghisap Jempol

Kebiasaan menghisap jempol sebenarnya adalah tindakan natural bayi. "Sangat umum bagi mereka menggunakan jari atau jempol lainnya untuk mendapatkan kenyamanan," ujar dr. Robert Anderson, seorang dokter anak asal Iowa, Kanada.

Di bulan pertama kehidupannya atau bisa jadi lebih cepat, anak bisa mulai paham kalau menghisap jari membuatnya nyaman. "Bisa membuat mereka tenang atau hanya karena memang itu menyenangkan," tutur Anderson lagi.

Namun jika dibiarkan sampai anak mulai tumbuh besar, kebiasaan itu bisa menghambat perkembangannya, seperti kemampuannya bicara. Kapan batas toleransi untuk anak menghentikan kebiasaan menghisap jempol itu?

"Biasanya saat anak berusia 2-4 tahun akan mulai melatih kepintaran lain, selain menghisap jari, seperti kemampuan bicara," imbuh drg. Mary Hayes asal Chicago.

Tapi tidak semua anak dengan mudah menghentikan kebiasaan menghisap jempol itu. Jika kebiasaan itu terus berlanjut sampai anak berusia 2 tahun lebih, ini bisa membuat perkembangan dirinya terhambat.

Menurut Hayes, jika dibiarkan gigi anak dapat menjadi maju atau saat rahang dikatupkan gigi depan atas dan bawah tetap terbuka. Masalah lain yang bisa timbul terjadi perubahan bentuk langit-langit mulut karena tekanan jempol di daerah tersebut.

Tak hanya itu saja, anak juga punya masalah dalam artikulasi jika terus menghisap jempol. Anak sulit mengucapkan huruf T dan D dengan benar atau huruf lainnya.

Lantas bagaimana caranya agar anak bisa menghentikan kebiasaannya tersebut? Psikolog keluarga asal California, Jenn Berman dan dr. Robert Anderson, memberikan beberapa sarannya:

1. Usahakan Anda membatasi waktu anak menghisap jarinya. Misalnya hanya boleh melakukannya di kamarnya atau di rumah, tidak saat berada di tempat umum. "Katakan pada anak kalau ini hanya boleh dilakukan menjelang tidur atau saat tidur," jelas Berman.

2. Jangan jadikan masalah ini sebagai bahan pertengkaran. "Jangan bilang pada anak, kamu tidak boleh menghisap jempolmu lagi," ujar Anderson. "Ketimbang memberinya kritikan, ketika anak tidak menghisap jempolmu, berikan dia pujian," tambahnya.

3. Komunikasikan pada anak soal kebiasaannya itu. "Katakan pada anak, kapanpun dia siap menghentikan kebiasaannya itu, Anda siap membantunya," ujar Berman. Cara ini bisa membuat anak termotivasi dan akhirnya datang pada Anda untuk minta bantuan Anda.

4. Bangun kesadaran anak. "Saat anak menghisap jempol, ingatkan padanya kalau dia sedang menghisap jarinya," jelas Hayes. Jika anak tidak menyadarinya, bantu dia dan cari cara adakah hal lain yang bisa membuatnya nyaman selain jari.

5. Lakukan cara-cara kreatif untuk membuat anak paham kalau mereka sedang sudah besar dan suatu hari nanti tidak akan menghisap jarinya lagi.
Read more

Delete this element to display blogger navbar

 
© Serba Informasi | Design by Blog template in collaboration with Concert Tickets, and Menopause symptoms
Powered by Blogger